JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

A. Jurnal refleksi dwi mingguan 1 tanggal 6 November 2022

Jurnal ini dibuat dengan model SEGITIGA REFLEKSI

JURNAL DWI MINGGUAN


B. Jurnal Refleksi Dwi Mingguan 2 Tanggal 19 November 2022

Model 1          : 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan ke Depan)

Nama : Pepsi Yuwindra, S.Pd.I

Sekolah         : SDN 3 Gemaharjo

Kelas : 133

Berikut hasil refleski saya, setelah mengikuti diklat guru penggerak selama 4 Minggu (Dwi Mingguan ke 2_Sabtu, 19 November 2022)

  1. Peristiwa: Momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 adalah sebagai berikut:

a.  Saya menyadari bahwa saya belum paham sepenuhnya terkait teori-teori pendidikan yang semestinya saya pahami sebagai seorang pendidik, terkhusus  tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menjadi esensi dari penyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Menurut saya penting bagi kita sebagai pendidik untuk mengenal secara lebih jauh tentang siapa itu Ki Hajar Dewantara, peran beliau dalam menumbuhkan dan mengembangkan pendidikan Indonesia. Beliau adalah seperti julukan yang disematkan kepadanya, “Bapak pendidikan” yang memotivasi sekaligus mengispirasi bagaimana berjuang dengan ketulusan, bagaimana langkah sulit yang beliau pilih telah memberikan kemudahan bagi manusia-manusia di zamannya hingga sekarang. (modul 1.1 Filosofi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara)

b. Saya menyadari bahwa saya masih perlu banyak belajar terkait nilai dan peran guru. Saya belum menjalankan tugas saya sebagai guru sebagaimana mestinya. Apa yang saya lakukan masih jauh dari nilai serta peran yang diharapkan ada pada diri seorang guru penggerak. (modul 1.2 Nilai dan peran guru penggerak)

c. Dari kesadaran-kesadaran tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk secara sungguh-sungguh mengikuti program CGP ini sebagai wadah bagi saya untuk terus belajar dan mengembangkan diri, mencoba melakukan praktik baik, melakukan refleksi dan perbaikan dalam proses pembelajaran, serta terpenting adalah menjadi pendidik yang berpihak pada kepentingan murid. 

Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya fahami adalah sebagai berikut:

Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang terdapat dalam modul 1.1 merupakan esensi dari penyelenggarakan pendidikan di Indonesia, termasuk dalam merumuskan nilai dan peran yang harus dimiliki oleh setiap guru, terutama guru penggerak yang terdapat dalam modul 1.2

Modul 1.1

Filosofi Pemikiran KHD

Modul 1.2 

Nilai dan Peran Guru Penggerak

  1. Pendidikan yang menghamba pada anak yakni pendidikan yang berpusat/berpihak pada murid (nilai berpihak pada murid)

  2. Pendidikan berdasarkan kodrat alam dan zaman, dimana pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi alam dan waktu yang berlaku (nilai inovatif)

  3. Pendidikan merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan, dimana pendidikan merupakan ruang/lingkungan terbentuknya budi pekerti/watak/karakter anak (peran mewujudkan kepemimpinan murid, nilai kolaboratif karena sebuah lingkungan yang kondusif bisa terbentuk melalui kerja sama semua pihak)

  4. Pendidikan yang menuntun kekuatan kodrat anak sehingga mereka memperoleh keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan anggota masyarakat. Proses menuntun erat kaitanya dengan proses perbaikan melalui refleksi (nilai refleksi)

  1. Nilai Guru Penggerak

Berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif, dan inovatif


  1. Peran Guru Penggerak

Mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi pemimpin pembelajaran, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan menggerakkan komunitas praktisi


  1. Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan seorang yang berjalan dalam kegelapan kemudian menemukan seberkas cahaya. Mengikuti guru penggerak tak jarang kita disebut telah berkeinginan/terobsesi/ siap menggambil peran sekaligus beban untuk menjadi kepala sekolah. Kalau dari saya pribadi niat awal adalah untuk belajar, bukan berikeinginan menjadi kepala sekolah, pandangan tersebut justru membuat saya takut untuk mengkuti guru penggerak. Namun saya memberanikan diri untuk bergabung dengan niat belajar, kemudian setelah mempelajari modul 1.1 dan 1.2 saya bertemu jawaban, kenapa saya dan setiap guru penting untuk mengikuti pelatihan ini. Karena disini adalah wadah untuk belajar bagaimana kita menjadi seorang guru yang mampu menjalankan peran pendidik. Disini adalah wadah bagi kita untuk menempa semangat menjadi pembelajar sepangjang hayat. Disini kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi dalam pendidikan yang sekaligus mengingatkan bahwa kita perlu untuk terus belajar sebagai landasan melakukan perbaikan proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri.


  1. Pembelajaran: Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa pembelajaran yang saya lakukan di kelas sudah benar, sudah sesuai dengan kebutuhan anak-anak, sudah memberikan pelayanan terbaik untuk anak-anak sekarang saya berpikir bahwa ternyata masih banyak yang harus diperbaiki dari cara mengajar saya, diantaranya:

a. Dalam nilai berpihak pada anak, kadang terfokus pada tujuan ketuntasan nilai yang harus dicapai anak-anak, tanpa sadar saya telah memberikan tuntutan bukan tuntunan kepada mereka. Semestinya saya juga harus fokus pada penanaman karakter dalam diri mereka. Lebih bersabar dan tidak menuntut apapun kepada mereka termasuk dalam hal nilai, karena setiap anak memiliki tingkat perkembangan yang berbeda. Pada masanya mereka akan mengerti, selama kita terus membimbing dan mengarahkannya.

b. Dalam nilai reflektif, saya masih jarang mengadakan kegiatan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran. Padahal melalui kegiatan refleksi ini kita bisa menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki atau bahkan dirubah untuk lebih baik.

  1. Penerapan ke depan (Rencana): Apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak?

  1. Mulai menerapkan pembelajaran yang lebih berpihak pada murid

  2. Melakukan kegiatan refleksi dalam setiap pertemuan pembelajaran, kemudian menjadikan hasil refleksi sebagai bahan perbaikan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

  3. Mengikuti pelatihan baik online maupun offline, seperti pelatihan mandiri di PMM, pelatihan di portal guru belajar, pelatihan peningkatan kompetensi digital di program non gelar Beasiswa Indonesia Bangkit.

  4. Meningkatkan kerjasama dengan teman sejawat, berbagi informasi dan praktek baik.

  5. Mengajak komunitas sekolah untuk secara bersama-sama bergerak melakukan pengembangan diri dan melakukan inovasi ataupun perubahan baik dalam mewujudkan lingkungan belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan peserta didik.


Salam Guru Penggerak!

Margomulyo, 19 November 2023